Oleh Lisa Nahgon, 18 tahun, Kamerun
Pernahkah Anda kesulitan bernapas karena udara yang tercemar? Hampir semua orang di Kamerun kini menghirup udara tercemar yang melebihi standar Organisasi Kesehatan Dunia. Saya didiagnosis asma saat baru berusia enam bulan, dan sejak itu, hidup saya dipenuhi dengan obat-obatan, kunjungan dokter, dan rawat inap.
Saya masih ingat betul serangan asma pertama saya saat berusia 5 tahun. Hari itu seperti hari-hari biasa, dan saya beserta saudara-saudara saya sedang bermain di halaman rumah ketika kami memutuskan untuk berlari kecil. Udara dipenuhi polusi dari bengkel mobil di dekatnya, dan saya bisa mencium bau asap kendaraan yang menyengat dari knalpot. Saat berlari, saya mulai merasa tidak nyaman, dan setiap langkah yang saya ambil, saya semakin lelah dari biasanya.
Terlebih lagi, saya merasa seperti ada yang duduk di dada saya dan menyempitkan paru-paru saya, sehingga saya hanya bisa bernapas sebagian. Tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi, saya terus berlari untuk mengejar yang lain dan melewati garis finis. Saat berlari, saluran napas saya semakin sesak, saya mulai mengi, butiran keringat menetes dari wajah saya, dan pandangan saya menjadi kabur. Saya ketakutan dan mulai panik, tidak mengerti apa yang terjadi pada saya. Baru-baru ini, saya menyadari bahwa polusi udara hari itu adalah salah satu pemicu serangan asma saya. Orang tua saya bergegas keluar dan menemukan saya berlutut di tanah, hampir tidak sadarkan diri. Tanpa ragu, mereka segera membawa saya ke rumah sakit, sangat mengkhawatirkan keselamatan saya.

Saya didiagnosis menderita asma saat saya baru berusia enam bulan, dan sejak saat itu, hidup saya dipenuhi dengan pengobatan, kunjungan dokter, dan rawat inap.
Lisa Nahgon, 18, Kamerun
Selain polusi udara yang memperburuk asma saya, saya juga mengalami alergi terhadap makanan, buah-buahan, dan bahkan beberapa jenis pakaian tertentu. Saya harus beradaptasi dengan pola makan dan gaya berpakaian yang baru. Polusi udara terus menjadi pemicu utama asma saya, ditambah dengan kebiasaan seringnya membakar sampah, memasak dengan kayu bakar, dan membakar pohon di lingkungan saya, yang memperparah gejala saya dan membuat saya sulit bernapas. Saya juga sering mengalami batuk, mengi, dan sesak napas, yang semakin memperparah kondisi saya.
Saat berusia 16 tahun, saya menjadi duta kesehatan udara bersih dan iklim, dan mulai berbicara kepada para siswa dan pembuat kebijakan tentang bahaya polusi udara terhadap asma saya. Sudah lama sejak terakhir kali saya mengalami serangan asma, dan saya bangga mengatakan bahwa saya telah tekun mematuhi semua langkah yang membantu saya mengelola kondisi saya. Beberapa tahun yang lalu, saya dan keluarga membuat perubahan signifikan yang sangat meningkatkan kualitas hidup saya. Kami pindah ke lokasi baru, dikelilingi pepohonan dan udara segar. Area tersebut berventilasi baik, dan kualitas udaranya jauh lebih baik daripada tempat tinggal kami sebelumnya. Saya akhirnya bisa bernapas lega dan merasakan manfaat tinggal di lingkungan yang lebih bersih.
Saat ini, saya adalah mahasiswa kedokteran tahun pertama dan juga seorang pasien asma, hal ini memberi saya semangat untuk memahami beban penentu lingkungan seperti polusi udara terhadap kesehatan anak.
Saya sangat yakin memasukkan polusi udara sebagai topik dalam kurikulum pendidikan mahasiswa kedokteran akan menjadi langkah penting untuk melawan pembunuh diam-diam ini. Selain itu, penting bagi setiap orang untuk menganggap udara bersih sebagai hak asasi manusia yang dapat meningkatkan kesehatan kita. Masa kecil saya mungkin tidak seberuntung itu, tetapi di sinilah saya, berbagi kisah dan menunjukkan bahwa saya berjuang untuk diri sendiri dan pasien-pasien saya di masa depan. Saya menolak membiarkan polusi udara dan disabilitas akibat asma mengendalikan hidup saya. Saya akan terus berjuang demi udara bersih untuk semua orang.